If I explain it to you anyway, you wouldn't understand

Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Januari 2011

Alien Nation....an incoherent rambling in one evening with friends over the net

(copas dari FB tulisan beberapa orang dalam waktu bersamaan)

Malaysia mengklaim bahwa UFO yang mendarat di Sleman adalah milik Malaysia. Lain halnya dengan Nurdin Halid yg mengklaim bahwa keberhasilan UFO mendarat di Sleman adalah karena dukungan golkar.

Menurut keterangan alien, UFO mendarat di sleman karena gagal landing di sidoarjo akibat lumpur lapindo.

"Pesawat kami belum mampu mengatasi luasnya lumpur lapindo," ujar alien yang enggan disebutkan namanya.

kemudian alien yg berhasil ditemukan, sebut saja namanya "bunga" direnggut keperawanannya oleh para pemuda tanggung yang sedang mabuk minuman oplosan. Pemuda bertubuh gemuk ini kemudian menerima bea siswa untuk melanjutkan kuliahnya di Perancis.

Tak disangka, beasiswa pemuda ini ditunda karena diduga kuat memiliki keterkaitan dengan jaringan poros Nurdin-Ical-Alien.

Penduduk sekitar masih tidak mau berkomentar mengenai penundaan beasiswa ini. Selain itu, kasus perenggutan keperawana...n makhluk asing, masih menjadi perdebatan di fakultas hukum setempat. Permasalahan yurisdiksi pengadilan dan kompetensi terus bermunculan diantara para ahli hukum perbintangan.

Berkenaan dengan klaim dukungan Golkar, sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak yang berkaitan. Ketika dihubungi, pengurus Golkar sedang sibuk berkompetisi Zuma di kantor masing-masing.

masih dari UFo yang sama, seorang pria tegap tinggi besar muncul dan langsung menyampaikan keluhan resmi semi merengek bahwa sudah tujuh tahun lamanya dia tidak naik gaji.

‎"Ini tahun ke-7 gaji saya belum naik," ujarnya mengawali semi-curhat.

Menurutnya, gajinya itu masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan onderdil dan modifikasi UFOnya. "Perlu banyak servis dan penambahan aksesoris disana-sini. Dana taktis... selama ini, masih belum cukup," pungkasnya. Selain minyak pelumas untuk mesin penggerak UFO saya, pomade aka minyak rambut untuk penampilan dan citra saya sebagai seorang pria bijak juga kurang mencukupi.

Biaya perawatan rambut bos alien, film porno dan oli UFO yang diduga sebesar 18 milyar tersebut saat ini raib setelah jumlah uang yang ditemukan dalam rekening gayus hanya sebesar 10 Milyar. "kami bilang uang itu tidak ada!" kata kabareskrim Ito....dengan nafas berbau oli alien

‎"Saya berharap semua prajurit mengerti kondisi ini. Mari kita utamakan terlebih dahulu kepentingan mesin penggerak UFO saya. Mengingat akan ada pertarungan antar-galaksi tahun depan, dan saya dimandatkan untuk mewakili Planet Bumi," ujar pria tegap tinggi besar, yang disinyalir memiliki inisial S, dan B, dan Y.

ketika ditanya mengenai video mesum yang sedang beredar, pria tegap tinggi besar itu tidak memberikan jawaban yang jelas.

"Kita lihat kajiannya seperti apa. Tentu, ada langkah-langkah yang nanti bisa kita tempuh," cetusnya sambil was-was den...gan ancaman golok sekelompok orang berjubah putih.


‎"Ini jelas video asli!" ujar ahli telematika, yang juga sering nongkrong dengan si pria tegap tinggi besar.

"Saya sudah memastikan keaslian video ini. ini 99% asli," cetus ahli telematika yang tidak memiliki ijazah di bidang telematika ini....

Ketika dicoba untuk mengonfirmasi kebenaran berita ini, menteri yang bersangkutan tidak juga memberikan keterangan yang memuaskan.

"Yang jelas, harus ada server di Indonesia. Saya akan tutup akhir bulan ini kalau tidak ada kejelasan dari perusahaan yang bersangkutan. Lagipula, saya tidak ada waktu untuk mengurus gosip di jaringan sosial," tukasnya sambil ngeloyor pergi dengan memegang beberapa keping DVD bertuliskan N*ughty Am*rica edisi MSHF.

Sampai berita ini diturunkan, semua pihak masih berusaha mencari kebenaran semua isu ini. Semenjak kepergian Mama Loren, hampir tidak mungkin untuk menemukan informasi yang dapat diandalkan dan tentunya sangat visioner.

Dato Zaenal, perwakilan pemerintah Malaysia, bersikeras bahwa UFO Sleman adalah milik negaranya.

"Tak bisa lah itu Indonesia klaim-klaim our spacecraft. Kiteu punyeu that thing," ucapnya dalam logat Malaysia yang kentara.

Meski demikian, Dato... mengutamakan penyelesaian sengketa batik yang hingga saat ini masih berada dalam proses yang tidak jelas.

"Terus lah kita work on that. After Sipadan-Ligitan, and Piala AFC terkahir, I raseu sudah enough Malaysia nurut sama Indonesie," pungkas Dato, tetap dengan logat malaysia yang kental, seperti kopi.

Keputusan pengadilan itu melegakan pria yang sehari-harinya bertugas untuk merusak sebuah organisasi sepakbola yang bernama P, S, S, dan I.

"Pengadilan telah memberikan putusan yang seadil-adilnya," tukasnya sambil ngeloyor pergi.

Ketika dimi...nta informasi mengenai putusan pengadilan itu, mantan istri sang pria berkata (telah diterjemahkan), "AKH, GILINGAN!! REMPONG NIH SEMUA HAKIM DEH. GUE TIMPE YEY SEMUA!!"

Aliansi Transgender Taman Lawang, masih belum bersikap mengenai putusan pengadilan ini. Namun mereka akan membawanya dalam Rakernas 2011 yang akan dilaksanakan di sekitar Jl. Latuharhary, Jakarta.

Direktur Intelijen Polda Metro Jaya, yang berada saat penggerebekan sebuah media online ternama di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan, mengungkapkan pendapatnya.

"Telah terjadi pembocoran rahasia negara yang luar biasa. Ingat, ini bukan kasu...s penghinaan, tetapi pembocoran rahasia negara," ujarnya dengan mimik muka yang seolah-olah serius.

Dirinya mengatakan akan menindaklanjuti kemungkinan bocornya rahasia negara melalui media online yang sehari-harinya memberitakan kejadian-kejadian di dunia hukum secara komprehensif.

Media online ini menyediakan berbagai layanan online dan offline yang bisa didapatkan secara berbayar oleh pelanggan. Keterangan lebih lanjut hubungi, Kuningan Madya Kav. 5-6 UG 11-12

(sumber FB andika gunadarma, ditulis oleh Andika, Pirhot, Tommy dan Adit Salya)

Kamis, 20 Januari 2011

Jaksa Tidak Butuh Rakyat?

Banyak aparat penegak hukum menganggap "suap" itu bukan korupsi, karena mereka "sama-sama terbantu" (mutualisme).

Masalahnya sebagai penegak hukum terutama jaksa, mereka punya kuasa untuk memberikan "pilihan" kepada orang untuk menyuap atau tidak menyuap. Kalau anda bayar kita "bantu" kalau tidak "kita (mungkin) persulit", dan perbedaan antara keduanya bagaikan surga dan neraka.

Suap (menerima suap) adalah K.O.R.U.P.S.I.....mau itu 1 miliar atau 1 unit blackberry.

Analogi yang mirip adalah seperti dokter yang bilang ke pasiennya, "kalau anda bayar kita obatin, kalau tidak anda mati".

Menyedihkan.

Karena itu banyak aparat penegak hukum yang selalu bilang bahwa, "meraka tidak butuh masyarakat, masyarakat yang butuh mereka" (masih ingat Evan brimob?). Yang lebih menyedihkan adalah upaya penegakan hukum ini bagi mereka hanya sekedar "bisnis", bisnis yang timbul karena jabatan mereka dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan hukum atau penegakan hukum atau keadilan. Istilah "kejar setoran" sekarang tidak hanya kita dengar keluar dari supir angkot, tapi juga dari mulut penegak hukum.

Perilaku seperti ini sangat menular tidak hanya di kalangan penegak hukum, tapi meluas ke bidang-bidang lain. SDM misalnya, berapa sering anda mendengar bahwa untuk masuk (diterima) ke instansi tertentu anda harus membayar jutaan rupiah. Begitu juga pengadaan barang, tender, izin, pendidikan (karir) bahkan sampai ke hal-hal yang kecil seperti SIM dan KTP. Istilah "mark-up" dan komisi menjadi hal yang wajar.

Di pertamina misalnya, dalam sebulan dibutuhkan kurang lebih $15 juta dollar sebulan untuk membor minyak di dalam tanah. Teknologi pengeboran ini sebagian besar dimiliki oleh kontraktor asing. Coba bayangkan seberapa besar apabila seorang pejabat Pertamina minta 1% saja setiap bulan dari nilai kontrak tersebut selama 1 tahun (biasanya lebih lama). Belum lagi dari bagian pemasaran dalam negeri (PDN), angkanya bisa mencapai ratusan miliar setiap bulan uang rakyat yang dikorupsi.

Perilaku seperti ini tidak hanya menular secara vertikal, tapi juga turun-temurun, dan sedihnya justru pegawai yang bersih malah tersingkir atau terhambat karirnya.

Perbedaan antara dokter dan penegak hukum adalah, dokter sadar kalau mengobati pasien adalah kewajiban dan tanggung jawab profesi yang melekat pada diri seorang dokter, sedangkan jaksa melihat ini sebagai "peluang" untuk berbisnis.

Bayangkan apabila dokter juga melakukan hal yang sama, atau pemadam kebakaran, atau guru.

Rabu, 24 November 2010

How The “Catfish” had Played Us All?

By Andika Gunadarma



Like in a game of chess, you always sacrifice your pawns to save your king or to distract your opponent attention while you plan your next move. There is no mystery in it.

In this case Gayus “the catfish” (I called him that because he looks like one big fat catfish) is just one of the (many) pawns, and possibly also many kings. I counted at least 4 kings, one in the tax office, one in the police, attorney general (AGO) and one in the tax court. These people are the mastermind behind this scandal. But unfortunately people attention already focuses on him and him alone right now even his self-righteous lawyer.

So their plan of diversion is working.

Ever since this case was brought up by Susno (also one of the expendable pawns) last year, most of us wonder, “how in earth that a low-ranking tax officer can get ten million US dollar in less than 5 year of work?” Some of us also wonders, “Who gave him those of money?”

But none of us ever question, “Is that really his money?” or he’s only holding it for someone else?

The most important and terrifying fact that I found during my investigation is that although Gayus might seems like a fat retarded guy, with crazy eyes, and bad teeth he is NOT stupid. This was also underestimate by those 4 kings.

Knowing this piece of evidence alone has been given me nightmares.

The fact that he is still alive right now to me is not because he has some critical information about the whole shenanigans but simply because he is the only one who has access to the money. The 4 kings have to guarantee his safety if they don’t want to loose their shares of the entire pillage.

Come on, bare with me here.

Let’s assume you own several big-huge-billions-dollar mining companies but don’t want to pay taxes. Well who doesn’t?
You need someone within the tax office that you can trust to create a shady deal.
As a public figure and with your credibility at stakes you wouldn’t want a bottom feeder like Gayus to handle the “deal”, you would need a high-ranking officer there, and it would be best if you could shake hands with the one on top of the “food chain”. The first king, tax king.

Now the tax king is not stupid either, he has to make sure that he has an exit plan, to ensure his safety, and reputation if anything should ever go wrong he has to be sure that all the evidence will point to the other direction (or other guy). In this Internet and social-networking age, one thing these people fear the most is the media attention, because it will blow the shit right into the fan with light speed and it will be too late and too expensive to fix.
So all he has to do is to find some low-ranking officers in his office that is stupid and greedy enough to be his pawns. The king gave them promise of wealth, career and security for their family. Which is irrelevant, because these low-ranking officers wouldn’t dare to refuse any order from their king anyway.

But they did it anyway just to unsure loyalty.

This method was also conducted in similar fashion by the other kings. They appointed their pawns, to do their dirty work.

It is very clever, because if anything should happen even in the worst-case scenario, like in case one of the king get caught by the KPK, and decided to turn state evidence, it will not reach as far as the other kings. The evidence will stop and pointed to these pawns. In this situation, media attention will be focused on these pawns as well, and create even wider gap between them (kings) and their money.

And I can bet you that this method also played in many other government institutions. It will not stop KPK from arresting those kings but it will make it harder, much harder.

You would have guessed that Antasari case was all about murder, wouldn’t you?
It is not. It’s about a deal between kings that went sour, its about one girl that until today we never heard from her again, its about an escrow account…Yes it’s all about the money.

These pawns are working as a team they have person to deal with the police pawns; other with the AGO, the tax court and one of them should be in charged as the “treasury” or “the book keeper”. Since all the payment has to go through the tax office, this “book keeper” role should be played by one of the pawns from the tax office.

That is where Gayus was called in and accept that role, and you probably have also heard some other name such as Radja Erisman, Edmon Eliyas and Cirus Sinaga. Those three are the pawns for the police king and the AGO king.

Every time those kings need money they call him, they need a new house or car or put their children to school aboard they call him, and he will gave them the money. If it’s a car they wanted it should be bought under his name, if it’s money they want he will bring hard cash. They are not stupid enough to do these transaction using wire transfer, because the internal-audit alarm will sound for any transaction above Rp.200 million, especially those that was made by government officer.

These kings always managed kept their hands clean.

But learning from history where they (corrupt) predecessors had been arrested by the Corruption Eradication Commission (KPK), thrown into prison, some of them got heart attack, even died in prison.
Those facts had made them evolved into more sophisticated, meticulous, and paranoid criminal.

Since Gayus is the only one who has access to the money always have the upper hands. He will not share the same fate like the rest of those bottom feeders.

This is how I figure it out.

Fact number one:
For a guy (Indonesian guy) who has more than $10 million he is way too humble. It’s true that he lives in a big house and drives a nice car. Maybe he has more houses and more cars, well he doesn’t. We all saw his father house and his old house. If he have all that money to himself it would’ve been hard to keep it in a safe since you can’t put them in your bank account, most corruptor kept their stash by buying properties, or gold. So what stopping him to do the same?
The answer to that is because those are NOT HIS MONEY.

Fact number two:
This is logic, “You can’t make or steal $10 million and hide it by your selves”, not in this country, not for a guy like him; he can’t even make $5000 alone. He must have someone helping him, an accomplice. This person could be his wife, his relatives, his co-worker, basically someone he can trust. Gayus can’t make any deal or forfeit a tax report without his senior/supervisor (his boss) signature. He can’t manipulate police report or tax court preceding without help from those other pawns. He can’t create an offshore escrow account(s) without a tip and connection from those business people who pays the bribe money.
He’s not stupid, but he is not that bright either.

Fact number three
Getting caught on camera watching a tennis match in Bali despite any speculation why he was stupid enough to be there in the first place, was not how he wore that ridiculous wig, or how the photographer managed to recognize him but for a felon who “escaped” incarceration he was disturbingly calmed, as if no harm will able to touch him. He was so relaxed, there could only two possibility for a person in his situation could pull a stunt like that was either he is conically retarded (with a death wish) or he has someone protecting him. Either way the plan for those kings to put the heat on him instead of them is working beautifully. We could see on most headlines on this was all about “how powerful Gayus was” (even the economist wrote that way).

Some people are trying (hard) to draw a connection between his Bali trips to one of the wealthiest man in this country that happened to be there at the same time. Coincidence? I don’t think so. The question that we should ask here is, why a man with that status would risk his reputation so recklessly? The answer to that is because he didn’t know that Gayus would be there. Again, the only possible reason why Gayus was there was not to incriminate him, but to drawn public attention on him…him alone.

Why?

Yes, now we’re asking the right question. Why should they treat him differently? He’s only a low-ranking officer. Well, it is for all the right reason, because he’s still has their money as leverage.

Gayus has bargaining power, one power that he probably just realized he has when he was arrested in Singapore. Yes, I saw the clip where two of our so-cal-anti-mafia team was “accidently” bump into him in an Indonesian diner there. I could see that the two well-known public figures were talking to him (almost looked like they were begging) for him to go with them back to our country.

You see, this is very, very rare because we don’t usually treat criminal like that, our law enforcement were not suppose to negotiate. I saw criminal being dragged, choked, poked, shoved, and yelled. Our police often put a bullet into a criminal leg, and/or beat he light out of them. Then come another clip (supposedly taken by a hidden camera) where they negotiate some more in his hotel room, but I knew that it was staged. I saw how they carried out their conversation, it's very relaxed, you can even hear some tiny laugh was broken there.

Come on, you all saw what happened with Bibit and Chandra, how they treated them, or how they treated Antasari, and those people from DPR and former high-ranking officers.

Now compare those with how they treated Gayus, Artalyta and Rani Juliani.

If it weren’t because of media coverage, Artalita would’ve sipping Singapore Sling in Singapore right now while having her nails done where she was suppose to be in prison.

For a country that doesn’t have a witness protection program, we sure are spoiling them, “protecting” them not from those who want to silence them, but from us, so we can all stay ignorance and those kings can negotiate their share.

Right now, the public attention, anguish and hatred already on Gayus. For him it doesn’t matter anymore, he got nothing to loose. Even if his share only 10% out of those $10 million it is still millions times more that he can make if he was clean. And looking back to our history of corruption verdicts, he will probably go to prison for less than 7 year. The question is, are you willing to trade your 7 years of freedom for $1million? Knowing that you will not be able to make that much money even if you are working for 50 years without eating.

It is a deafening reality of our beloved country.

These kings have played us like a dog, barking at the wrong tree.
The phrase “Conspiracy to commit crime” is merely just another distant echoes that nobody would even care.

Hopefully we still have the last laugh…because these kings are laughing at us right now.

Senin, 13 Juli 2009

Ambil Nafas Dulu...sebelum Menjerit

Banyak hal bisa terjadi dalam satu hari, apalagi satu minggu.

Baru seminggu yang lalu, saya mengerjakan perkerjaan yang rutin, sama seperti hari-hari sebelumnya selama kurang lebih 5 tahun. Saya merasa cukup beruntung karena bisa bekerja di bidang yang saya sukai (or setidaknya saya mengerti) dan dikelilingi orang-orang yang sangat inspiratif membuat suasana kantor menjadi lebih hidup.

Persis hari selasa terbitlah majalah Tempo dengan sampulnya yang bergambar seorang satria berbaju besi yang sedang dikeroyok, walaupun hanya gambar tapi wajah satria tersebut terlihat sangat familiar....itu wajahnya salah satu pimpinan KPK.

Kemudian saya disodorkan tulisan hasil wawancara Tempo dengan seorang Jendral Polisi. Di situlah saya membaca istilah "cicak dan buaya". Entah kenapa otak saya langsung berpikir, masih ada di jaman sekarang seorang pemimpin berbicara seperti itu?
Kalau pemimpinya saja seperti itu bagaimana anak buahnya?
Apakah saya juga cicak?
Atau mungkin dia tidak bermaksud demikian?
Apakah benar Michael Jackson dibunuh?
Bau apa ini?...saya memang sedikit menderita ADD....

Kemudian saya mencoba menarik garis merahnya...hasilnya kira-kira begini:

Korupsi = mengambil sejumlah uang (yang bukan hak-nya) dengan paksaan atau menggunakan jabatan.

Jabatan dia adalah kepala reserse - dia punya gaji pokok - plus tunjangan (kalau ada)
Saya kepala perusahaan - punya gaji pokok - tunjangan kesehatan.

Secara hirarki kedudukan dia dan saya sama.

Dia punya anak buah dan unit yang harus dia pimpin dengan memberi contoh dan instruksi yang jelas, supaya unit tersebut berjalan benar dan memberikan kontribusi yang baik kepada perusahaan. Dijalankan dengan buruk-pun perusahaannya tidak mungkin bangkrut.

Sama dengan saya, kecuali untuk hal yang terakhir. Kalau buruk nasib perusahaan dan rekan kerja saya bisa runyam.

Secara tanggung jawab sama

Dari segi intelektual, dia S2 sekolahnya. Dari luar negri.
Saya juga

Dari segi akademik kita sama

Dari segi pengalaman kerja/memimpin. Dia jauh lebih berpengalaman
Berarti dia lebih bijaksana dalam berucap dan mengambil keputusan.

Lantas kenapa ini semua terjadi? apa karena uang? kalau iya...bukannya mobil dia sudah alphard/xtrail yang terbaru? (kalau sudah bisa punya kedua mobil tersebut, tidak perlu ditanya apakah dia berkecukupan lagi). Apa semua pemimpin di negeri ini kelakuannya seperti ini?

Jawabannya YA!

Rasanya seperti disamber gledek...semuanya keliatan jelas sekarang!
  1. Jalan yang bolong-bolong di depan rumah dan sepanjang jalan ke kantor....kenapa? Saya kan bayar pajak...kenapa jalan masih bolong? Bukan karena insinyur di PU yang bodoh...tapi karena material untuk membuat jalan yang di korupsi.
  2. Hutan di Kalimantan yang ditebang habis dan dijual ke Malaysia....bukan karena bisnis....tapi korupsi juga antara pengusaha dan pemerintah daerah disana.
  3. Biaya jalan-jalan anggota DPR, gaji mereka seumur hidup, fasilitas, bonus...semua dari APBN...dari rakyat....tapi mereka banyak yang mangkir dari rapat...korupsi.
  4. Lampu jalan yang sering mati...korupsi
  5. sekolah yang harusnya gratis....korupsi
  6. BLT yang dipotong oleh petugas....korupsi
  7. Polisi yang minta sidang di tempat....korupsi
  8. TKW yang meninggal di luar negeri.....korupsi
  9. Tanker minyak yang ngambil minyak di tengah laut....korupsi
  10. Freeport menghasilkan emas, bukan tembaga.....korupsi
  11. pesawat yang jatuh....gara-gara KORUPSI
  12. Pengadilan menunda putusan.....korupsi
  13. penempatan notaris....korupsi
  14. Kejaksaan menahan 20hari untuk kasus Prita....korupsi
  15. Pungutan liar...bukan premanisme...itu KORUPSI
  16. pengumunan tender yang terlalu mepet waktunya...korupsi
  17. Bangun jalan bukan bangun subway....korupsi
  18. Likuidasi bank....kredit macet....korupsi
  19. Tarif telepon yang mahal....direksi Telkom Alphardnya dua (buat dia dan istrinya...WTF!)...KORUPSI
  20. Kapolsek/Kapolres di daerah yang banyak tempat prostitusi dan judi....KORUPSI
  21. Pajak....kemana pajak saya larinya....dipakai buat apa saja?.....korupsi
  22. FISKAL.....korupsi (skarang sudah tidak ada)
  23. Watergate....korupsi
  24. Manohara??......itu sih emang pangerannya aja yang gokil....bukan korupsi.
  25. Ko Rup Si
Negara kita ga akan kemana-mana selama ini semua masih terjadi.
Tidak akan ada seorang polisi, jaksa dan hakim yang tidak korupsi selama gaji mereka masih kecil! Bagaimana mereka bisa menegakkan hukum dan keadilan atas nama Tuhan Yang Maha Esa selama mereka harus memikirkan biaya susu anak, baju anak, rumah dan sekolah anak yang tidak bisa terbeli hanya dengan mengandalkan gaji saja.

Dan saya mengharapkan mereka bekerja professional dan menjunjung integritas.....saya mimpi.

Kenapa polisi lagi, jaksa lagi, hakim lagi yang jadi sasaran, sedangkan banyak sekali koruptor yang lebih parah di BUMN atau instansi yang lain. Karena merekalah yang berseragam dan bersentuhan langsung dengan kehidupan sosial kita....mereka jadi terlihat lebih jelas dibandingkan dengan koruptor di BUMN.

This has to stop...someone have to do something

Cicak....berarti saya cicak....dan mereka (koruptor) tidak akan perduli dengan nasib saya, orang lain dan negara ini....yang ada di otak mereka hanyalah materi.

Kalau seandainya kesuksesan itu diukur dari berapa bahagianya seorang....dalam seminggu ini saya jauh lebih bahagia daripada sang jendral.

Berarti saya lebih sukses dari dia minggu ini.

Saya akan buat logo/gambar malam ini yang bisa mewakili suara saya yang tertahan.

Semoga jeritan kita sama, dan menusuk ke jantung mereka.

Gambar : koran Tempo

Senin, 06 Juli 2009

Cicak...cicak di KPK


Gerakan CICAK (Cintai Indonesia Cintai KPK), dimulai hari ini pada tanggal 6 Juli 2009. Saya tahu, agak garing (maksa) singkatannya, tapi ungkapan "cicak" ini justru keluar dari seorang jendral polisi yang dalam kalimat yang sama mendeskripsikan dirinya sebagai "buaya".

“...cicak kok mau melawan buaya...”
(Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol. Susno Duadji, Majalah TEMPO 6-12 Juli 2009)

Cicak yang dia maksud disini adalah salah satu ketua KPK.
Seandainya seorang ketua KPK saja dia anggap cicak, bagaimana dia melihat orang biasa seperti saya dan anda.
Arogansi (orde baru) seperti ini yang saya kira sudah mulai hilang semenjak reformasi tahun 1997-1998 ternyata masih ada.

Dia lupa bahwa POLRI bisa seperti sekarang, dimana pejabatnya bisa bermewah-mewah karena perjuangan rekan-rekan kita dulu. Dahulu, mana bisa polisi pakai mobil mewah, atau punya rumah yang mewah tanpa takut "dikerubungin" tentara, karena dulu POLRI adalah bagian dari TNI. Segimananya seorang polisi akan gemetar ketakutan bila mereka dipanggil ke mabes TNI atau BIN.

Sekarang, sejak lewatnya masa reformasi dan setelah pemisahan TNI dan POLRI banyak lahir "buaya" baru yang lupa akan perjuangan rekan-rekan kita dulu. Tanpa mereka mana mungkin sekarang ada kebebasan pers, demokrasi...hmm mungkin infotainment...he he he.
Banyak sekali POLISI dengan pangkat (maaf) tidak terlalu tinggi tapiii mobilnya alphard, rumahnya di Pondok Indah, istrinya keluar negeri jalan-jalan melulu.

WHAT THE F***!! kalau kata rekan saya orang Australia.

Enak memang, dan ga ada masalah buat saya, selama memang mereka berhak untuk memperolehnya, dan dengan cara yang halal.

"Buaya" kita yang satu ini, terakhir saya dengar hendak diperiksa oleh KPK karena terkait kasus likuidasi Bank Century. Mungkin bukan hanya dia satu-satunya orang di POLRI yang terlibat. Saya bisa bilang demikian karena saya tahu kalau persaudaraan di dalam angkatan (polisi atau tentara) lebih kental dari darah. Tidak mungkin atasannya tidak tahu keterlibatannya...tidak mungkin....titik.
Seorang polisi atau tentara sudah terlatih untuk tidak takut pada siapapun....kecuali dua hal:

satu seniornya (yang pangkatnya lebih tinggi)

dua....Tuhan.

Tuhan saya letakkan nomor dua...karena memang itu kenyataannya. Buktinya, kalau seniornya yang memanggil dia, atau meminta sesuatu...sampai jual rumah pun bisa dia lakukan. Tapi ibadah....entar dulu....itu kan urusan yang diatas (katanya).

Dia lupa kalau suara kita, profesor atau yang buta huruf sama kuatnya dalam demokrasi. Kedudukan kita dalam hukum sama.

Saya prihatin dengan kejadian ini, karena reformasi itu sendiri lahir karena kemuakkan kita terhadap KKN, dan KPK adalah anak kandung yang lahir dalam perjuanggan itu.

Hancurnya KPK adalah kehancuran mimpi dan perjuanggan kita.

Kalau seandainya KPK adalah cicak....maka kita....rakyat...adalah cicak.

Tapi cicak yang jumlahnya juataan....dan kita tidak bisa tinggal diam.